Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

Pandemi, Pendidikan, dan Persaingan Privilese

Senin, 06/07/2020 08:51:06
Jakarta - 

Pandemi telah mengakar sampai ke semua lini dan memang telah menyeret kita pada dimensi yang berbeda. Wabah ini juga sukses memforsir tenaga kesehatan dan praktisi lainnya, dua bahkan tiga kali lipat dari tuntutan biasanya. Tapi, terlepas dari masalah kesehatan,mental health, sanitasi, dan sebagainya, pendidikan juga menjadi hal yang bergeser dengan cergas.

Era disrupsi telah bergerak cepat, namun fenomena Covid-19 melesat lebih cepat dari apa yang diharapkan. Belum ada perencanaan matang untuk tenaga pendidik yang cukup technophobia (ketakutan terhadap teknologi) hingga akhirnya mereka 'dilepas', seiring munculnya virus mematikan ini. Sepertinya beberapa tenaga pendidik masih latah dan resisten terhadap teknologi yang dihadirkan, sementara masih banyak siswa pun mahasiswa yang harus mengelus dada karena jaringan mereka yang tak memadai di pelosok, hingga alasan lainnya.

Pak Avan Fathurrahman mungkin menjadi satu dari banyak cerita heroik yang hadir di tengah pandemi ini. Ia merupakan seorang guru SD di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Banyak hal dilematis yang dialaminya sebagai pendidik, dan satu di antaranya adalah kegelisahannya atas protokol untuk work from home, yang berimbas pada kebijakan belajar di rumah dari Menteri Pendidikan. Keterbatasan siswa dalam mengakses, bahkan memiliki perangkat komputer atau smart phone menjadi alasan tersendiri petualangan keliling rumah ini dimulai.

 

Selain kekhawatiran alpanya ruh akademis dalam pembelajaran daring, dia juga cukup khawatir dengan hilangnya hubungan interpersonal yang biasanya dibangun dengan siswa di dalam kelas. Entah itu nilai-nilai kepemimpinan atau nilai-nilai toleransi dalam aktivitas pembelajaran.

Hak Istimewa

Tentu, tidak semua orangtua memiliki privilese untuk mendapatkan akses dan fasilitas yang mumpuni untuk sekadar menyebar ilmu. Peggy McIntosh, seorang aktivis pada tahun 1988 mendefinisikan privilese sebagai hak istimewa yang dimiliki oleh seseorang yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Hal ini tidak hanya mencakup ras atau gender, melainkan terbagi atas beberapa aspek aspek seperti: ras, kelas, gender, orientasi seksual, agama, pendidikan, usia, kemampuan fisik, dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, privilese pendidikan cukup dipengaruhi oleh kelas sosial. Dalam kasus ini, Pak Avan harus benar-benar memahami dan berempati dengan situasi perekonomian siswanya yang mungkin tercoret atas beberapa privilese yang ada, entah itu pendidikan atau kelas sosial. Gadget, video conference, Zoom, Google Meet, Schoologymungkin istilah dan kata-kata yang tidak lebih penting dan tidak ada harganya dibanding beras, minyak, dan menu berbuka puasa.

Sementara, saya sendiri tidak yakin apakah Pak Avan memikirkan dirinya sendiri yang harus berkeliling hingga menempuh jarak hingga 20 meter demi mencerdaskan anak-anak bangsa ini. Hanya saja, karena privilese dibangun oleh konstruksi sosial, di mata orang lain mungkin Pak Avan sangatlah jauh dari predikat berprivilese; bukan alumni universitas Ivy League, hanya berkendara motor tanpa embel-embel mobil dinas, namun ternyata mampu menghadirkan hak istimewa bagi siswa-siswinya.

Dari perspektif siswa dan orangtua lain, hak istimewa yang mereka miliki selama pandemi mungkin adalah teknologi yang canggih, serta aplikasi yang selalu update. Namun bagi siswa Pak Avan ini, kehadiran Pak Avan justru lebih dari segala privilese yang dipuja orang lain.

Terlepas dari kasus tersebut, tentu kita tidak bisa memukul rata pengorbanan Pak Avan dengan tenaga pendidik lain. Tapi setidaknya ada beberapa rencana model pembelajaran daring yang direkomendasikan oleh World Bank --yang menitikberatkan pada pemanfaatan produk-produk yang sudah ada dan patut untuk dipertimbangkan.

Pertama, memanfaatkan konten yang sudah ada di televisi, radio, atau kanal Youtube tanpa harus membuat konten baru yang pasti akan menambah tekanan dan beban kerja guru. Kedua, tetap menggunakan printed material pada sistem pembelajaran, namun tidak harus mendistribusikan ulang materi dari guru; memakai surat kabar bekas atau konten-konten digital di media sosial, atau berita-berita online pun bisa terlaksana dengan mempertimbangkan efisiensinya.

Mengeluh dan membandingkan privilese orang lain dengan apa yang di depan mata tentu tak ada habisnya. Sawang sinawang, begitu ungkapan dalam bahasa Jawa mencoba memulihkan iri dengki pada kita yang hobi membanding-bandingkan. Entah itu membandingkan kebahagiaan, atau berlomba untuk terlihat paling menderita di antara circle pertemanan, kerja, pun dalam hidup bertetangga.

Mengingat pendidikan telah melintasi dimensi yang baru, tentu ketidaknyamanan dan perbandingan selalu hadir di setiap kalangan, utamanya pendidik, siswa, dan beberapa lini yang terkait seperti orangtua dan sebagainya. Segala kemampuan kognitif dan non-kognitif anak diadu dan diundang dalam pembahasan di meja makan: tentang ketidaksuksesan metode ini, tentang kebahagiaan sekolah A yang hadir penuh meski saat sekolah online, atau tentang Ibu A yang bisa fokus membimbing anaknya dari rumah karena hanya ibu rumah tangga, atau Ibu B yang bisa memfasilitasi segala perangkat untuk anaknya karena menjadi wanita karier dengan penghasilan besar, dan jendela-jendela privilese lainnya.

Pandemi ini tentu menjadi refleksi bagi dunia pendidikan untuk kita menggali, sejauh mana kita merespons segala tekanan tanpa sibuk menghujat privilese yang telah perlahan terkikis.



Mufidatunnisa 

https://news.detik.com/kolom/d-5078470/pandemi-pendidikan-dan-persaingan-privilese?_ga=2.201539286.673340936.1594000131-1512525774.1577688560

Posting oleh Desi Eri K 4 bulan yang lalu - Dibaca 695 kali

 
Tag : #MBS #PSM #covid19 #pendidikanonline #belajaronline #pendidikan #persaingan #mutu

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Jum'at, 23/10/2020 17:22:51
Mengembangkan Kompetensi Kepala Sekolah di Masa Pandemi

Tidak hanya Belajar dari Rumah (BDR), kepala sekolah itu penuh tantangan dan peluang untuk mengembangkan kompetensinya....

Senin, 12/10/2020 10:45:00
ANALISIS DAMPAK ANJURAN PEMERINTAH TERHADAP BELAJAR DI RUMAH BAGI PELAKU PENDIDIKAN

Dunia sedang mengalami pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Penerapan kebijakan Work From Home (WFH)...

7 Pilar MBS
MBS portal
Tujuh Pilar Manajemen Berbasis Sekolah
  Tujuh pilar MBS yaitu kurikulum dan pembelajaran, peserta didik pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, hubungan sekolah dan masyarakat, dan budaya dan lingkungan sekolah. Manajemen kurikulum dan pembelajaran berbasis sekolah adalah pengaturan kurikulum dan...
Informasi Terbaru
Modul dan Pedoman
Video MBS
Modul MBS
Paket Pelatihan 3
Paket Pelatihan 3
7 tahun yang lalu - dibaca 77063 kali
Paket Pelatihan 2
Paket Pelatihan 2
7 tahun yang lalu - dibaca 57994 kali
Paket Pelatihan 1
Paket Pelatihan 1
7 tahun yang lalu - dibaca 86598 kali
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
7 tahun yang lalu - dibaca 63988 kali
MODUL 6 UNIT 3
MODUL 6 UNIT 3
5 tahun yang lalu - dibaca 62687 kali
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
5 tahun yang lalu - dibaca 72022 kali
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator Renstra
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator...
7 tahun yang lalu - dibaca 62886 kali
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan Pendidikan
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan...
7 tahun yang lalu - dibaca 46193 kali
Info MBS
3 Inspirasi Manajemen Berbasis Sekolah...
3 minggu yang lalu - dibaca 224 kali
Melihat Kendala Terberat Saat Membuka Kembali Sekolah di Masa Pandemi
Melihat Kendala Terberat Saat Membuka...
2 bulan yang lalu - dibaca 659 kali
Kemendikbud: Belajar dari Rumah Tidak Harus Terbebani Target Kurikulum
Kemendikbud: Belajar dari Rumah Tidak...
3 bulan yang lalu - dibaca 739 kali
Nasib Pelajar di Tengah Pandemi 
Nasib Pelajar di Tengah Pandemi 
3 bulan yang lalu - dibaca 728 kali
Survei Kemendikbud: Peran Orangtua Penting dalam Pelaksanaan Belajar Dari Rumah
Survei Kemendikbud: Peran Orangtua...
4 bulan yang lalu - dibaca 1314 kali
Hadapi Pandemi Covid-19, Kemendikbud Sederhanakan Kurikulum
Hadapi Pandemi Covid-19, Kemendikbud...
4 bulan yang lalu - dibaca 1331 kali
Kemendikbud: Tahun Ajaran Baru Bukan...
4 bulan yang lalu - dibaca 1529 kali
New Normal di Dunia Pendidikan : PGRI Usul Kurikulum Sekolah Era Pandemi Covid-19
New Normal di Dunia Pendidikan : PGRI...
5 bulan yang lalu - dibaca 2008 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2020 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.51 Mb - Loading : 0.53393 seconds