Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

Memahami "Penderitaan" Siswa di Kelas

Selasa, 14/05/2019 13:17:53
Wilson Bhara Watu

Jakarta -
Seorang teman yang bekerja sebagai dosen muda di salah satu perguruan tinggi swasta pernah "curhat". Suatu kali, setelah ia selesai memberikan penjelasan panjang tentang salah satu materi kuliah, seorang mahasiswa angkat tangan dan bertanya. Teman saya bersemangat karena ada mahasiswa yang antusias dengan materi kuliahnya. Namun, ia akhirnya kecewa karena yang ditanyakan bukan tentang materi kuliah, tetapi pertanyaan geli, "Untuk apa kami harus mempelajari semua materi yang bapak jelaskan?"

Ia kecewa karena telah menghabiskan satu jam lebih untuk memberikan penjelasan, dan ia telah mempersiapkan materi tersebut lebih dari dua minggu. Saya kemudian tersenyum sambil mengatakan bahwa bukan dia saja yang mendapat pertanyaan seperti itu. Saya juga pernah mendapatkan pertanyaan serupa yang datang dari siswa sekolah dasar. Bunyi pertanyaannya juga mirip, "Pak, apa pentingnya kami belajar semua yang bapak jelaskan?"

Jika Anda mendapat pertanyaan tersebut, sering muncul godaan untuk menghakimi bahwa siswa zaman sekarang bermental instan, malas berpikir, atau juga berdaya juang rendah. Namun, sebaiknya penilaian seperti itu mesti diberi tanda kurung karena terlalu dini dan subjektif. Secara pribadi, saya melihat bahwa pertanyaan tersebut merupakan umpan balik dari metode serta relevansi materi yang saya sampaikan di kelas. Tepatnya, pertanyaan "nakal" tersebut merupakan akibat dari "penderitaan" yang para siswa alami ketika mereka harus mempelajari hal yang konteks dan titik tolaknya belum mereka pahami.

Pertanyaan Pelecut

Setelah saya mendapatkan pertanyaan menohok dari siswa tersebut, saya bertanya pada diri saya, "Apa yang salah dengan materi yang saya sampaikan atau metode yang saya gunakan?" Saya menemukan ada satu kesalahan fatal yang ternyata selalu saya ulang. Kesalahan tersebut adalah absennya konteks dari materi yang saya sampaikan. 

Saya tidak mengajak siswa saya melihat pengalaman nyata, narasi, atau pun juga fakta-fakta yang mereka kenal untuk dijadikan titik tolak dari proses pembelajaran yang ada. Saya juga abai mengajukan pertanyaan pembuka yang bisa membantu mereka berpikir tentang apa yang akan mereka pelajari. 

Pada umumnya begitu saya masuk kelas, saya langsung memulainya dengan ceramah. Itu kesalahan fatal. Wajar kalau para siswa "menderita" selama proses belajar mengajar dan merasa kecewa serta mengajukan pertanyaan "nakal" tersebut.

Pembelajaran yang tepat sasar seharusnya menempatkan konteks dalam prosesnya. Siswa diajak untuk paham mengapa dia belajar tema ini serta dalam hal apa saja tema tertentu bisa membantu dia dalam menyelesaikan masalah-masalahnya sehari-hari. Sebagai contoh, saat pelajaran moral, saya tidak langsung menceramahi para siswa dengan doktrin moral yang mungkin tidak mereka pahami. Jika tema pembicaraannya adalah tentang menyikapi kesalahan orang lain, saya akan terlebih dahulu memberikan contoh tentang dua kondisi masyarakat dalam menyikapi kesalahan. 

Masyarakat yang satu adalah masyarakat yang suka mencela orang yang berbuat salah dengan menghakimi secara masal, dan masyarakat yang lain adalah masyarakat yang menolong orang yang berbuat salah dengan ajakan untuk berubah. Kemudian saya akan meminta mereka untuk memilih menjadi bagian dari masyarakat yang mana dengan alasan yang kuat lalu membantu mereka menyadari keterbatasan dari setiap kondisi masyarakat yang mereka pilih. Dengan demikian, mereka tahu tindakan apa yang seharusnya diambil ketika orang lain berbuat salah atau melanggar norma masyarakat karena mereka paham konteksnya.

Jika itu adalah pembelajaran sains misalnya, maka proses itu lebih hidup jika dimulai dengan pertanyaan tentang fakta-fakta seputar kehidupan para siswa sehari-hari, misalnya "mengapa telur mengambang di air yang asin dan tenggelam di air tawar?" Proses itu akan lebih menantang ketimbang memulainya dengan menjelaskan apa itu massa jenis dan bagaimana cara menghitung massa jenis dengan rumus yang abstrak. 

Dengan cara itu para siswa pun akan perlahan-lahan paham penerapan hukum-hukum sains dalam skala yang lebih luas. Dalam konteks ini, pertanyaan yang tepat dapat menjadi pembuka yang baik dalam proses pembelajaran di kelas. Dengan pertanyaan tersebut, siswa paham dari mana asal konteks pembelajaran dan ke mana arah dari seluruh proses tersebut akan berlabuh.

Jangan Melebar

Godaan lain yang sering kali muncul dalam proses pembelajaran di kelas adalah menyuplai banyak materi dalam waktu singkat. Saya kadang terperangkap dalam kesalahan ini. Bayangkan saja jika satu proses pembelajaran di kelas dimulai dengan tema bahasan "Stratifikasi Sosial", namun berakhir dengan pembahasan tentang kelayakan seseorang untuk masuk surga atau neraka. Dalam kondisi tersebut, para siswa akan menemukan kesulitan dalam menjaga fokus pemahaman pada tema tertentu. 

Keberhasilan proses pembelajaran tidak tergantung dari berapa banyak materi yang disampaikan, tetapi pada dalamnya pemahaman para siswa pada tema yang spesifik. Siswa seharusnya tidak perlu dibebani dengan begitu banyak tema dalam satu proses pembelajaran sehingga mereka mampu menangkap kata kunci yang mudah diingat.

Pertanyaan yang kontekstual dan fokus yang tepat adalah dua kunci penting dalam proses pembelajaran di kelas. Dengan dua kunci tersebut proses pembelajaran akan berjalan lebih menarik dan akhirnya siswa ditolong untuk menemukan pemahaman yang tepat dan sadar bahwa "ternyata ini penting to!"

Wilson Bhara Watu alumnus STFK Ledalero dan Magister Ilmu Pendidikan Universitas Pelita Harapan, guru Sekolah Dasar di Bekasi


https://news.detik.com/kolom/d-4548485/memahami-penderitaan-siswa-di-kelas?_ga=2.141376699.803053496.1557814446-413133760.1557298477

Posting oleh Desi Eri K 1 tahun yang lalu - Dibaca 3028 kali

 
Tag : #MBS #PSM #peransiswa #peranguru #bebanbelajar #bebansiswa

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Selasa, 04/08/2020 09:12:57
New Normal Sekolah, Antara Sif Belajar dan Modifikasi Materi

Kehidupan new normal di sekolah dan kampus dinilai mesti diatur secara rinci dengan melibatkan sumber daya yang tak...

Selasa, 28/07/2020 08:31:58
Kemendikbud: Belajar dari Rumah Tidak Harus Terbebani Target Kurikulum

Kegiatan belajar dari rumah (BDR) bukan perkara yang mudah, termasuk bagi orangtua. Alhasil, tidak sedikit orangtua...

7 Pilar MBS
MBS portal
Tujuh Pilar Manajemen Berbasis Sekolah
  Tujuh pilar MBS yaitu kurikulum dan pembelajaran, peserta didik pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, hubungan sekolah dan masyarakat, dan budaya dan lingkungan sekolah. Manajemen kurikulum dan pembelajaran berbasis sekolah adalah pengaturan kurikulum dan...
Informasi Terbaru
Modul dan Pedoman
Video MBS
Modul MBS
Paket Pelatihan 3
Paket Pelatihan 3
7 tahun yang lalu - dibaca 74340 kali
Paket Pelatihan 2
Paket Pelatihan 2
7 tahun yang lalu - dibaca 55843 kali
Paket Pelatihan 1
Paket Pelatihan 1
7 tahun yang lalu - dibaca 83449 kali
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
7 tahun yang lalu - dibaca 61749 kali
MODUL 6 UNIT 3
MODUL 6 UNIT 3
5 tahun yang lalu - dibaca 60300 kali
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
5 tahun yang lalu - dibaca 69419 kali
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator Renstra
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator...
7 tahun yang lalu - dibaca 60482 kali
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan Pendidikan
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan...
7 tahun yang lalu - dibaca 44641 kali
Info MBS
Kemendikbud: Belajar dari Rumah Tidak Harus Terbebani Target Kurikulum
Kemendikbud: Belajar dari Rumah Tidak...
1 minggu yang lalu - dibaca 45 kali
Nasib Pelajar di Tengah Pandemi 
Nasib Pelajar di Tengah Pandemi 
3 minggu yang lalu - dibaca 113 kali
Survei Kemendikbud: Peran Orangtua Penting dalam Pelaksanaan Belajar Dari Rumah
Survei Kemendikbud: Peran Orangtua...
1 bulan yang lalu - dibaca 258 kali
Hadapi Pandemi Covid-19, Kemendikbud Sederhanakan Kurikulum
Hadapi Pandemi Covid-19, Kemendikbud...
1 bulan yang lalu - dibaca 353 kali
Kemendikbud: Tahun Ajaran Baru Bukan...
2 bulan yang lalu - dibaca 452 kali
New Normal di Dunia Pendidikan : PGRI Usul Kurikulum Sekolah Era Pandemi Covid-19
New Normal di Dunia Pendidikan : PGRI...
2 bulan yang lalu - dibaca 591 kali
3 Inspirasi Manajemen Berbasis Sekolah...
5 bulan yang lalu - dibaca 1125 kali
Mendikbud Tetapkan Empat Pokok...
7 bulan yang lalu - dibaca 2025 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2020 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.53 Mb - Loading : 8.25191 seconds