Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

Pelaksanaan Manajemen Layanan Khusus Bimbingan Dan Konseling Berbasis Sekolah

Kamis, 04/06/2015 21:18:54

5500clcc_klaten272.JPG

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) semakin berkembang akhir-akhir ini, meskipun keberadaannya sudah lama diperkenalkan di Indonesia, dan mutu sekolah merupakan suatu hal yang harus ditingkatkan secara terus-menerus, termasuk masalah layanan bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling merupakan salah satu manajemen layanan khusus di sekolah yang sangat penting keberadaannya bagi seluruh warga sekolah terutama untuk membantu guru dalam mengatasi kesulitan siswa.

Menurut Schertzer & Stone (1996) dalam Widada dan Hayinah (1991: 4), bimbingan adalah suatu proses bantuan yang ditunjukkan kepada individu agar mengenali dirinya sendiri serta dunianya. Konseling atau penyuluhan adalah suatu bimbingan yang diberikan kepada individu (siswa) dengan tatap muka (face to face) melalui wawancara. Konseling merupakan salah satu teknik dalam memberikan bimbingan. Jadi, bimbingan dan konseling merupakan pelayanan bantuan untuk siswa dengan menciptakan kondisi yang kondusif agar individu dapat berkembang secara wajar, sesuai dengan kapasitas dan peluang yang dimilikinya, sehingga ia berguna untuk dirinya dan masyarakatnya baik secara perorangan maupun kelompok, serta mampu mandiri dan berkembang secara optimal, melalui bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karir, yang dilakukan dengan berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku (Neviyarni, 2009: 75-76).

Terlaksananya suatu kegiatan pasti dilatar belakangi oleh beberapa faktor, begitu juga dengan bimbingan dan konseling. Adapun faktor-faktor yang mendorong diselenggarakannya layanan bimbingan di sekolah menurut Widada dan Hayinah (1991: 12-14) yaitu:

  1. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bertujuan membentuk manusia yang memiliki pribadi yang bulat, tidak saja menekankan pada perkembangan intelektual melainkan juga memperhatikan perkembangan sikap, nilai budaya serta ketrampilan (skill), maupun perkembangan rokhaniah.
  2. Perkembangan teknologi yang begitu pesat dewasa ini menyebabkan selalu muncul penemuan-penemuan baru, baik penemuan di bidang ilmu, teknologi, budaya, pendidikan dan sebagainya.
  3. Pribadi setiap siswa adalah unik. Sifat pribadi, tingkah laku siswa selalu akan berbeda dengan yang lain. Keadaan ini sebenarnya mendorong perlunya diberikan perhatian secara individual bagi setiap siswa.
  4. Tugas guru bidang studi semakin banyak, akibatnya beban mengajar semakin banyak. Sehubungan dengan itu maka guru akan jarang/kurang perhatiannya kepada murid-murid secara individual.
  5. Khusus mengenai Sekolah Menengah, kebutuhan akan layanan bimbingan dipengaruhi pula oleh faktor perkembangan jiwa anak.

Adapun ruang lingkup pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling berbasis sekolah tidak hanya layanan bagi siswa saja, tetapi juga layanan kepada guru, layanan kepada kepala sekolah, layanan kepada calon peseta didik (feeder school), layanan kepada orang tua, layanan kepada dunia kerja terutama dilaksanakan di sekolah kejuruan, layanan kepada lembaga-lembaga dan masyarakat lain (Tim Dosen AP UPI, 2011: 215-216)

Penyelenggaraan bimbingan dan konseling harus dilandasi oleh prinsip-prinsip yang membuat kegiatan tersebut terlaksana sesuai harapan sekolah dan sesuai ketetentuan yang berlaku dari pusat. Prinsip-prinsip bimbingan tersebut sesuai keterangan Widada dan Hayinah (1991: 8-9) yaitu:

1)      Hendaknya dalam memberikan layanan bimbingan, individu siswa dianggap sebagai individu yang berkemampuan

2)      Siswa adalah individu yang berharga, sehingga perlu dihormati

3)      Siswa sebagai individu yang merupakan kebulatan

4)      Siswa adalah merupakan makhluk unik

5)      Keberhasilan pelayanan bimbingan disekolah amat diperlukan oleh kesediaan serta kesadaran siswa itu sendiri.

Pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah tidak semata-mata untuk membantu mengatasi kesulitan siswa saja, tetapi juga untuk meningkatkan mutu sekolah dengan cara mengelola program bimbingan dan konseling atas kewenangan sekolah sendiri tetapi tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan strategis yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Hal inilah yang saat ini sedang gencar-gencarnya di kembangkan oleh pemerintah Indonesia, salah satunya dengan pendirian RC MBS atau MBS Center. MBS Center merupakan pusat informasi dan data yang berbasis web dan berfungsi sebagai lembaga kajian manajemen berbasis sekolah untuk mencapai tujuan peningkatan kinerja sekolah sesuai dengan prinsip-prinsip MBS dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.

Keberadaan MBS dapat membuat sekolah mengembangkan dirinya tumbuh mandiri dalam mengelola programnya, termasuk dalam hal bimbingan dan konseling seperti pendapat Sukardi (1983: 173) mengenai tujuan khusus program bimbingan di sekolah yaitu agar para siswa memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulitan dalam: 1) memahami dirinya sendiri, 2) memahami lingkunganya (sekolah, keluarga dan masyarakat luas), 3) mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapinya, 4) menyalurkan potensi-potensi yang dimilikinya dalam pendidikan dan dalam lapangan kerja yang tepat. Dengan adanya layanan bimbingan kepada siswa maka diharapkan kesulitan-kesulitan siswa baik kesulitan belajar , kesulitan emosional maupun kesulitan yang lain dapat teratasi dengan baik.

Bimbingan dan konseling di sekolah dilaksanakan oleh beberapa personel, menurut Boharudin (2011) personel tersebut ialah kepala sekolah, koordinator pelayanan BK, guru pembimbing, guru mata pelajaran dan guru praktek, wali kelas, serta staf tata usaha / administrasi. Adapun langkah-langkah pelaksanaannya yaitu: 1) langkah analisis adalah langkah memahami kehidupan individu siswa (konseli), dengan menghimpun data dari berbagai sumber, 2) langkah sintesis adalah langkah yang menghubungkan dan merangkum data yang diperoleh, 3) langkah diagnosis yakni langkah menemukan masalah siswa atau mengidentifikasi masalah (kekuatan dan kelemahan siswa), 4) langkah prognosis adalah langkah meramalkan akibat yang mungkin timbul dari masalah itu dan menunjukkan perbuatan-perbuatan yang dapat dipilih, 5) langkah konseling dapat ditempuh dengan menciptakan hubungan yang baik antara konselor dengan siswa, menafsirkan data, memberikan berbagai informasi, serta merencanakan berbagai bentuk bersama siswa, 6) langkah tindak lanjut merupakan suatu langkah penentuan efektif tidaknya suatu usaha konseling yang telah dilaksanakan (Sukardi dan Kusmawati, 2008: 63-64).

Setelah kegiatan selesai dijalankan hendaknya dilaksanakan evaluasi, evalusi bimbingan perlu diadakan dengan tujuan untuk memeriksa efektivitas dari program bimbingan, memperjelas dan memvalidasikan hipotesis-hipotesis yang mendasari kegiatan-kegiatan yang dilakukan, mengatahui apakah pengalaman belajar yang diberikan memang benar-benar diperlukan oleh siswa, serta untuk mengukur keberhasilan dari kegiatan-kegiatan staf sekolah. Langkah-langkah dalam mengevaluasi layanan bimbingan adalah sebagai berikut:

1) penentuan tujuan dari program pendidikan di sekolah,
2) penentuan kriteria yang menunjukkan bahwa tujuan telah tercapai,
3) pengukuran dari adanya dan luasnya kriteria-kriteria yang telah ditentukan.

Dengan adanya evaluasi akan diketahui kelemahan dan kekurangan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki kegiatan pada masa yang akan datang.

 

 Oleh: Dwi Nur Nikmah, 110131405783

 

DAFTAR RUJUKAN

Boharudin. 2011. Manajemen Layanan Bimbingan dan Konseling disekolah, (online), (http://boharudin.blogspot.com/2011/04/ manajemen-layanan-bimbingan-dan.html), diakses 8 September 2013.

Neviyarni. 2009. Pelayanan Bimbingan dan Konseling: Berorientasi Khalifah Fil Ardh. Bandung: Alfabeta.

Sukardi, Dewa Ketut dan Kusmawati, Desak P.E. Nila. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukardi, Dewa Ketut. 1983. Seri Bimbingan: Organisasi Administrasi Bimbingan Konseling di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional.

Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. (Ed.). 2011. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Widada dan Hayinah. 1991. Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (Tatiek Romlah, Ed.). Malang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan IKIP Malang.

 

 

Posting oleh Dwi Nur Nikmah 2 tahun yang lalu - Dibaca 11613 kali

 
Tag : #MBS # Manajemen Layanan Khusus # Konseling

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Jum'at, 10/11/2017 18:27:46
Budaya Literasi dan Karater Mulai Nampak

Budaya Literasi dan Karater Mulai Nampak Kamis, 09 Nov 2017 13:05 | editor : Dzikri Abdi...

Minggu, 28/10/2017 07:10:16
Jembatani Kompetensi Siswa dengan Kebutuhan Pelaku Dunia Usaha

JawaPos.com – JAPFA Foundation sejak 2015 berkelanjutan memfokuskan diri pada pembinaan Sekolah Menengah...

7 Pilar MBS
MBS portal
Tujuh Pilar Manajemen Berbasis Sekolah
  Tujuh pilar MBS yaitu kurikulum dan pembelajaran, peserta didik pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, hubungan sekolah dan masyarakat, dan budaya dan lingkungan sekolah. Manajemen kurikulum dan pembelajaran berbasis sekolah adalah pengaturan kurikulum dan...
Informasi Terbaru
Modul dan Pedoman
Video MBS
Modul MBS
Paket Pelatihan 3
Paket Pelatihan 3
4 tahun yang lalu - dibaca 45198 kali
Paket Pelatihan 2
Paket Pelatihan 2
4 tahun yang lalu - dibaca 35251 kali
Paket Pelatihan 1
Paket Pelatihan 1
4 tahun yang lalu - dibaca 48670 kali
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
4 tahun yang lalu - dibaca 37827 kali
MODUL 6 UNIT 3
MODUL 6 UNIT 3
2 tahun yang lalu - dibaca 32395 kali
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
2 tahun yang lalu - dibaca 38960 kali
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator Renstra
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator...
4 tahun yang lalu - dibaca 35438 kali
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan Pendidikan
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan...
4 tahun yang lalu - dibaca 24169 kali
Info MBS
Budaya Literasi dan Karater Mulai Nampak
Budaya Literasi dan Karater Mulai Nampak
1 minggu yang lalu - dibaca 23 kali
Jembatani Kompetensi Siswa dengan Kebutuhan Pelaku Dunia Usaha
Jembatani Kompetensi Siswa dengan...
3 minggu yang lalu - dibaca 116 kali
Pendidikan Informal untuk Penguatan Pembelajaran di Daerah Tertinggal
Pendidikan Informal untuk Penguatan...
1 bulan yang lalu - dibaca 278 kali
Sekolah Berasrama Asa bagi Anak Perbatasan
Sekolah Berasrama Asa bagi Anak...
2 bulan yang lalu - dibaca 300 kali
Program Keahlian Ganda Butuh Praktik Mengajar Realistik
Program Keahlian Ganda Butuh Praktik...
2 bulan yang lalu - dibaca 411 kali
Permen tentang Penguatan Pendidikan Karakter Disiapkan dalam Sepekan
Permen tentang Penguatan Pendidikan...
2 bulan yang lalu - dibaca 677 kali
Pemerataan Pendidikan Siapkan SDM Berkarakter dan Berdaya Saing
Pemerataan Pendidikan Siapkan SDM...
2 bulan yang lalu - dibaca 839 kali
72 Tahun Merdeka, Apa Kabar Pendidikan Indonesia?
72 Tahun Merdeka, Apa Kabar Pendidikan...
3 bulan yang lalu - dibaca 634 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2017 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.59 Mb - Loading : 2.08211 seconds