Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

Penguatan Manajemen Pendidikan Persekolahan Dalam Rangka Menghasilkan Sumber Daya Manusia Di Era Kompetisi Global

Senin, 11/04/2016 09:42:07

03manajemen pendidikan.jpg


Ibrahim Bafadal. Pertama, dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan terima kasih kepada Panitia Seminar Nasional “Penguatan Manajemen Pendidikan di Era Kompetisi Global,” yang diselenggarakan atas kerjasama antara Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dan Ikatan Sarjana Manajemen Pendidikan Indonesia (ISMaPi) yang telah mengundang dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk menjadi pemakalah dalam seminar nasional terhormat ini. Kedua, merujuk kepada tema yang dicantumkan dalam surat undangan seminar yang diterima penulis, judul makalah ini adalah “Penguatan Manajemen Pendidikan Persekolahan dalam Rangka Menghasilkan Sumber Daya Manusia di Era Kompetisi Global.” Kajian melalui makalah ini lebih difokuskan pada penguatan manajemen pendidikan di level sekolah. Asumsi dasarnya adalah bahwa ujung tombak keberhasilan implementasi sistem pendidikan nasional adalah sekolah. Di dalam “Indonesia Educational Statistics in Brief 2013/2014 dilaporkan bahwa Indonesia memiliki 71.356 Taman Kanak-Kanak melayani 3.993.929 siswa, 2.458 Sekolah Luar Biasa yang melayani 89.233 siswa, 148.272 Sekolah Dasar yang melayani 26.769.680 siswa, 35.527 Sekolah Menengah Pertama yang melayani 9.653.093 siswa dan 22.780 SMA/SMK yang melayani 8.462.370 siswa. Sungguh dengan jumlahnya yang sangat banyak pendidikan persekolahan di Indonesia memerlukan manajemen pendidikan yang kuat.

Ketiga, melalui makalah ini, penulis dengan segala keterbatasan (al-fakir), ingin mengawali untuk mengedepankan pemikiran penulis dalam sebuah model konseptual, sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1, yang menggambarkan bahwa menghadapi era golobalisasi bangsa Indonesia dituntut memiliki sumber daya manusia (SDM) yang cerdas komprehensip dan kompetitif. Kecerdasan kehidupan bangsa meskipun merupakan karunia Ilahi, juga sebagian besar dipengaruhi hasil pendidikan, sebab secara hakiki pendidikan merupakan usaha sadar dalam mewujudkan proses pembelajaran bagi peserta didik (siswa) agar mereka secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi manusia kepribadian, kecerdasan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negaranya. Tugas utama (core business) pendidikan dalam persekolahan adalah pembelajaran. Tidak ada kualitas sekolah tanpa kualitas pembelajaran. Tidak ada keluaran yang cerdas komprehensif dan kompetitif tanpa pembelajaran yang meritualisasikan kecerdasan komperehsif dan kompetisi positif antar siswa, sebagaimana dikehendaki kurikulum yang diyakini menjadi kerangka kerja pembelajaran yang cerdas dan kompetitif guna menghasilkan SDM produktif sehingga menjadi bonus demografi. Namun sebaik apapun kurikulum yang dikembangkan, keefektifnya mepersyaratkan adanya guru profesional yang memahami filosofi yang mendasari kurikulum tersebut, menuntut adanya guru yang mampu menerjemahkan semua konsep dan strategi ideal dalam kurikulum menjadi praktik pembelajaran nyata. dan sosok kepala sekolah yang lebih menampilkan diri sebagai pemimpin pembelajaran, visioner, inspiratif, strategis, dan integritas. “… children are educable in varying degrees … the failure to carry out that principle is the failure … of parents, of teachers, of admiistrators … There are no unteachable childrend … There are only schools and teachers and parents who fail to teach them” (Adler, 1982). Lebih lanjut, tidak ada guru yang tidak bisa mendidik, yang ada adalah kepala sekolah yang tidak bisa memberdayakan guru untuk kesuksesan dalam mendidik. “… the quality of teaching and leraning that goes on in a school is largely determined by the quality of such leadership” (Adler, 1982). Demikianlah, sehingga untuk menghadapi dan memasuki era kompetisi, memang harus dilakukan penguatan manajemen pendidikan. Namun penguatannya difokuskan pada “segi tiga emas” komponen pendidikan sebagai sebuah sistem, yaitu penguatan kurikulum dan pembelajaran agar menjadi sebuah “orchestra pebelajaran” yang efektif dalam mempersiapkan siswa memasuki era kompetisi global, pemberdayaan profesi guru dan penyiapan dan pemberdayaan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran (instructional leadership) dengan pendekatan “integrated system of principalship,” sehingga keduanya (guru dan kepala sekolah) secara bersatu padu menajdi “orchestrators of excellence in teaching and student learning” yang secara tulus ikhlas diabdikan untuk mencetak sumber daya manusia yang siap menghadapi era kompetisi global.
 
 
Visi Pendidikan: Sdm Yang Cerdas Komprehensif dan Kompetitif
Era Globalisasi sering diartikan dengan era tidak ada batas negara atau sering juga disebut dengan era informasi, era keterbukaan, era liberalisasi, era pasar bebas, era kompetisi, dan era kerjasama regional maupun global. Pada era tersebut terjadi apa yang disebut dengan “mega-competition society,” yaitu kerjasama dan kompetisi antar bangsa yang sangat dahsyat dalam segala sektor pembangunan bangsa. Di satu sisi, dengan era globalisasi semua manusia diberi peluang besar untuk berlomba-berlomba melalukan kebaikan (fastabiqul khairat) dan memenuhi tantangan Allah kepada manusia dan jin, sebagaimana difirmankan Allah di dalam Al-Qur’an, yang artinya “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan” (QS: Ar Rahmaan, ayat 33). Namun di sisi lain, dengan era globalisasi yang penuh kompetitif tersebut, manusia ditantang untuk memiliki kekuatan atau kompetensi. Tanpa memiliki kekuatan atau kompetensi, manusia tidak akan dapat melintasi penjuru langit dan bumi. Demikian pula manusia Indonesia, tidak akan survive di era global yang penuh kompetitif bilamana tidak memiliki kompetensi yang sangat memadahi.

Data kependudukan Indonesia memang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sedang dan akan menerima bonus demografi, tepatnya sejak tahun 2010 sampai 2035. Dengan bonus demografi sebagaimana divisualisasikan dalam gambar 2, sebagian besar penduduk Indonesia sampai tahun 2035 adalah penduduk dalam usia produktif (working age), yaitu berusia 15 Tahun sampai dengan 64 tahun. Jumlahnya mencapai tidak kurang dari 77%. SDM usia produktif tersebut bisa betul-betul produktif sehingga menjadi modal pembangunan dan bonus demografi, namun bisa juga tidak produktif dan ahirnya menjadi beban pembangunan atau bencana demografi. Namun menghadapi era gobalisasi yang penuh dengan kompetisi atau persaingan yang ketat lintas negara, bonus demografi tersebut di atas harus disambut dengan riang gembira, walaupun penuh tantangan. Secara kuantitatif banghsa Indonesia telah siap mengahadapi era globalisasi. Tantangannya adalah bagaimana mempersiapkan sumber daya manusia dalam usia produktif yang berlimpah tersebut secara kualitatif siap menghadapi era globalisasi.

Menghadapi tantangan tersebut, sebaiknya kita menelaah visi pembangunan pendidikan 2025 yang digagas oleh Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid Pertama yang dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia 2004-2009, Dr. H. Susilo Bambang Yudhono, sebagaimana tertuang di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005—2025. Di dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) dirumuskan arah pembangunan pendidikan nasional jangka panjang Indonesia dalam rangka menghantarkan bangsa kita memasuki era globalisasi, termasuk memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sebuah agenda besar dan dahsyat integrasi ekonomi negara-negara ASEAN yang bertujuan untuk menghilangkan (atau paling tidak) meminimalisasi hambatan-hambatan di dalam melakukan kegiatan ekonomi lintas kawasan, misalnya dalam perdagangan barang, jasa, dan investasi. Arah pembangunan pendidikan nasional 2025 adalah insan Indonesia yang cerdas komprehensif dan kompetitif. Ada empat kecerdasan yang dimaksud dengan cerdas komprehensif tersebut, yaitu cerdas spiritual, cerdas sosio-emosional, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis-estetis. Aneka indikator capaian setiap kecerdasan tersebut telah diuraikan di dalam RPJPN 2025, sebagaimana dapat dirangkum dan divisualisasikan pada Tabel 1.Senyatanya visi pendidikan Indonesia sangat baik, yaitu singkat, lengkap, dan menginspirasi. Tantangannya sekarang justru terletak pada penguatan level sekolah dalam menerjemahkan visi pendidikan nasional tersebut menjadi visi pendidikan di level persekolahan. Sejak tahun 1996 penulis memberikan fasilitasi bimbingan atau konsultansi pengembangan sekolah unggulan, sekolah unggulan terpadu (SUT), sekolah rintisan betaraf internasional (RSBI), dan sekolah-sekolah bertaraf internasional berbasis keislaman, termasuk di dalamnya juga madrasah-madrasah.

Berdasarkan pengalaman tersebut dapat diambbil kesimpulan bahwa terdapat kebingungan pada sebagian besar kepala sekolah dan para guru dalam memahami pentingnya visi dan misi sekolah, Mereka tidak mampu membedakan antara visi sekolah dan misi sekolah, sehingga mengalami kebingungan dalam merusmukan visi dan misi sekolah. Penulis memperhatikan adanya rumusan visi dibanyak sekolah yang sebenarnya bukan rumusan visi sekolah, melainkan rumusan misi sekolah, atau sebaliknya. Penulis juga menemukan adanya banyak rumusan visi dan misi sekolah yang tidak mengisnpirasi (uninspiring), tidak jelas atau tidak terarah (confusing), dan sangat panjang yang impossible for anyone to remember. Demikian pula penulis menemukan adanya rumusan visi dan misi sekolah yang tidak disusun bersama seluruh pemangku kepentingan, sehingga tidak dirasakan menjadi miliki mereka. Bahkan yang lebih celaka lagi adalah masih ada sebagian kepala sekolah dan guru yang memandang sekolah tidak perlu memiliki visi dan misi, dan bilamana telah memiliki rumusan visi dan misi, tidak ditransmisikan ke dalam kurikulun sekolah (KTSP) dan kinerja pembelajaran. Sungguh hal yang demikian itu ironis sekali bilamana dihubungkan dengan pernyataan Baker (1990) dalam Murgatroyd dan Morgan (1994). Baker menyatakan “Vision without action is marely a dream. Action without vision just passes the time. Vision with action can change the world. “
 
Kurikulum, Pembelajaran, dan Guru Yang Menjembatani Peradaban
Khalifah Al Bin Abi Thalib, salah seorang khalifah dalam khulafaurrasyidin yang sangat dikenal dengan kecerdasannya, menegaskan “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Sungguh mereka akan menghadapi masa yang berbeda dari masamu (Nuh, 2013). Ada pernyataan yang amat sangat relevan dengan pernyataan Khalifah Ali Bin Abi Thalib, yaitu dimuat dalam website Pertnership for 21 Century Skill (www.p21.org), yang menyatakan “today education system faces irrelevance unless we bridge the gap between how student live and how they learn.”

Kedua pernyataan tersebut di atas mengisyaratkan bahwa sebuah sistem pendidikan tidak akan dikatakan efektif bilamana tidak menjembatani “jurang” antara subtansi pendidikan dengan realitas kehidupan yang akan dihadapi siswa di era globalisasi yang secara hakiki merupakan era kompetisi yang sangat dahsyat dalam segala sektor pembangunan sebagai dapak dari informasi, keterbukaan, liberalisasi, pasar bebas yang tdiak terbatas. Dengan kata lain kurikulum dan pembelajaran sebagai inti pada proses pendidikan harus relevan dengan kebutuhan siswa di masa yang akan datang. Tidak ada keluaran yang cerdas komprehensif dan kompetitif tanpa pembelajaran yang meritualisasi kecerdasan komperehsif dan kompetisi positif antar siswa. Dengan segala keterbatasan penulis, berikut direkomendasikan prinsip-prinsip pembelajaran yang isnyaallah akan menjembatani siswa memasuki era golbalisasi, sebagai berikut:
  1. Pembelajaran diselenggarakan berbasis kompetensi, yaitu menfasilitasi peserta didik agar memiliki kompetensi tersentu sesuai standar kompetensi lulusan yang telah ditetapkan
  2. Setiap kompetensi peserta didik mencakup kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan komptensi keterampilan, sehingga semua pembelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.
  3. Pembelajaran harus mampu menumbuhkembakan siswa sebagai warga negara Indonesia yang memiliki komitmen keagamaan, komitmen kebangsaan , dan kecendekiaan dengan karakter siswa sabililllah penuh cinta.
  4. Pembelajaran dikelola secara profesional melalui empat tahapan, yaitu (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan pembelajaran, penilaian pembelajaran, (4) pembelajaran remidi atau pembelajaran pengayaan.
  5. Pembelajaran di Sekolah Dasar menggunakan pendekatan tematik integratif, berbasis aktivitas siswa yang ilmiah, kolaboratif, dan teknologi informasi yang diikat dalam bentuk pembelajaran berbasis proyek yang menyenagkan guru dan siswa.
  6. Pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas berbasis aktivitas siswa yang ilmiah, kolaboratif, dan teknologi informasi yang diikat dalam bentuk pembelajaran berbasis proyek yang menyenagkan guru dan siswa.
  7. Penilaian dilakukan oleh pendidik selama dalam proses pembelajaran dan akhir Pembelajaran.
  8. Penilaian dilakukan untuk (1) melihat proses pembelajaran sebagai dasar umpan balik dalam perbaikan pembelajaran; dan (2) mengukur capaian komptens-kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa sebagai hjasil pembelajaran.
  9. Ranah yang dinilai tidak hanya pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga sikap spiritual dan sikap sosial.
  10. Proses penilaian dilaksanakan secara sederhana, terjangkau untuk dilakukan, tidak menjadi beban bagi guru dan siswa, tetapi tetap mengutamakan prinsip dan kaidah penilaian
  11. Penilaiaan mencakup penilaian formatif dan penilaian sumatif. penilaian formatif dititikberatkan pada proses, dan hasilnya dijadikan umpan balik bagi perbaikan pembelajaran. Penilaian sumatif dititikberatkan pada pengukuran capaian hasil pembelajaran berbasis komptensi.
  12. Penilaian dilakukan tidak hanya penilaian pembelajaran, melaikan juga penilaian untuk pembelajaran dan penilaian sebagai pembelajaran.
  13. Bagi siswa yang belum mencapai ketuntasan minimal dalam pencapaian standar kompetensi difasilitasi program pembelajaran remidi.
  14. Bagi siswa yang telah mencapai ketuntasan minimal dalam pencapaian standar kompetensi difasilitasi program pembelajaran pengayaan.
Tentunya kurikulum yang baik harus disertai oleh guru baik, sehingga kurikulum tersebut dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran yang baik. Perubahan kurikulum akan berdampak pada perubahan pembekajaran bilamana terlebih dahulu disertai perubahan pada sosok guru. Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 1978—1983 pernah menegaskan bahwa “Tidak gampang untuk bisa mengatakan apa yang membuat suatu bangsa kokoh dan maju. Namun, mudah sekali untuk mengakatan kapan bangsa ini mulai goyah eksistensinya, yaitu bila generasi yang sedang berkuasa melalaikan pendidikan generasi penerusnya, melalui pelecehan terhadap kinerja pengabdi nomor satu di bidang pendidikan, yaitu guru” (Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 2013).
 
Penyiapan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pembelajaran.
Keefektifan suatu sekolah dalam menggapai visi, mengemban misi, mememuni tujuan dan target, serta dalam menjalankan aktivitas pembelajaran mempersyaratkan adanya seorang kepala sekolah yang menampilkan kepemimpinan yang efektif. Lebih-lebih, sejak tahun 2003 Pemerintah secara resmi memperkenalkan dan menggalakkan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Quality Improvement), yang lebih dikenal dengan manajemen berbasis sekolah (School Based Management), suatu model manajemen sekolah yang lebih menekankan pada peningkatan mutu pendidikan persekolah oleh seluruh stakeholder sendiri sesuai dengan kebutuhan riil sekolah dalam komando tertinggi kepala sekolah. Dengan demikian, implementasi manajemen berbasis sekolah merupakan salah satu ”jalan masuk yang terdekat” menuju peningkatan mutu dan relevansi pendidikan. Perihal kepala sekolah sebagai faktor yang sangat menentukan (critical factor) kesusksesan peniningkatan mutu sekolah dan keberhasilan sekolah secara keseluruhan juga pernah disitir oleh Lunenburg (2010). Penelitian-penelitian di lapangan pun banyak menyimpulkan bahwa kepemimpinan yang efektif dari seorang kepala sekolah memiliki hubungan positif dan sangat signifikan atau berpengaruh kuat bagi prestasi siswa. Bahkan lebih dari sekadar prestasi siswa. berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan sekolah yang efektif memiliki pengaruh kuat terhadap student attendance, student engagement with school, student academic self-efficacy, staff satisfaction, and collective teacher efficacy.

Dengan kedudukannya yang begitu staretgisnya, kepala sekolah ditantang untuk mengupayakan kepemimpinan yang efektif. Lunenburg (2010) menegaskan bahwa tanggung jawab yang paling utama seorang kepala sekolah adalah meningkatkan kualitas pembelajaran dan kesuksesan semua peserta didik. “The principal’s primary responsibility is to promote the learning and success of all students,” demikian yang dikatakan oleh Lunenburg (2010). Keyakinan Lunenburg dapat dipahami, sebab fungsi utama sekolah adalah pembelajaran. Tidak ada kualitas sekolah tanpa kualitas pembelajaran, sehingga kualitas suatu sekolah diukur dari seberapa efektif sekolah tersebut dalam membelajarkan seluruh siswa. Bagi Lunenburg kepemimpinan kepala sekolah yang efektif adalah kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) Lebih lanjut Lunenburg menegaskan bahwa kepala sekolah adalah “orchestrators of excellence in teaching and student learning.” Sebagai seorang orkestrator memiliki peranan sangat penting dalam hal “assembles a group of talented musicians and melds their abilities into a virtuoso performance.” Demikian pula seorang kepala sekolah yang sukses mampu menyatukanpadukan (assembles) visi dan misi sekolah, kualitas guru, budaya dan iklim pembelajaran, dan segala komponen pendukung untuk ditransformasikan menjadi sebuah masyarakat pembelajaran (learning community) di mana di dalamnya seluruh pendidikan dan tenaga kependidikan bersama siswa belajar dan meraih tujuan pembelajaran tingkat tinggi.

Seluruhan penjelasan di atas menunjukkan betapa pentingnya kedudukan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Namun dalam realitanya jabatan kepala sekolah belum memiliki sistem yang baik. Standar kompetensi kepala sekolah yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah belum menunjukkan keberpihakan yang sangat kuat terhadap kompetensi-kompetensi yang sangat berhubungan dengan tugas utama kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Pemerintah belum memiliki sistem seleksi calon kepala sekolah yang efektif dalam pengangkatan kepala sekolah dalam kerangka otonomi daerah. Demikian pula dalam hal-hal penilaian kinerja kepala sekolah, pembinaan karir kepala sekolah, peningkatan keprofesian kepala sekolah berkelanjutan belum diatur secara operasional oleh Pemerintah. Walaupun telah ada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah namun implementasi peraturan tersebut belum sebagaimana yang diharapkan.

Sementara di sisi lain, kinerja kepala sekolah yang ada selama ini belum lebih difokuskan pada kepemimpinan pembelajaran. Beberapa indikator yang tampak selama ini. Pertama, begitu banyak sekolah yang tidak memiliki visi, misi, tujuan dan target sekolah yang jelas dan benar (shared vision). Kalaupun jelas dan benar, rumusan visi, misi, tujuan, dan terget sekolah tersebut tidak disosialisasikan dan internalisasikan kepada warga sekolah dan masyarakat, khususnya orang tua siswa. Bahkan begitu kepala sekolah ditanya tentang rumusan visi, misi, tujuan, dan target sekolahnya, ternyata kepalah sekolah sendiri tidak bisa menjelaskannya alias lupa. Kedua, kepala sekolah belum banyak memberikan perhatian kepada upaya-upaya penciptaan budaya pembelajaran (learning culture). Sulit rasanya untuk dipercaya, bahwa di sekolah-sekolah, khususnya sekolah-sekolah ”pelat merat” alias sekolah negeri yang memiliki prosedur-prosedur operasional standard (POS) dalam gugusan subtansi kurikulum dan pembelajaran. Ketiga, kepala sekolah kurang memberikan perhatian kepemimpinannya dalam penciptaan lingkungan belajar yang efektif untuk membelajarkan dan pertumbuhan siswa (learning environment).

Di sisi lain lagi yang berada di luar sekolah ”non jauh di sana,” adalah kajian-kajian atau penenelitian tentang kepemimpinan sekolah dan kekepalasekolah (school leadership and principalship). Sementara ini memang telah banyak penelitian-penelitian tentang kepemimpinan kepala sekolah, kepemimpinan pembelajaran, gaya kepemimpinan. Namun penenelitian sementara ini berkutat pada penelitian-penelitian dasar yang lebih berkeinginan untuk mengukur hubungan, pengaruh, dampak kepemimpinan atau gaya kepemimpinan terhadap kualitas sekolah, tingkat kehadiran siswa, kinerja guru, motivasi kerja guru dan lain sebagainya. Penelitian-peneltian tersebut dilakukan oleh para pakar-pakar administrasi pendidikan, manajemen pendidikan, kepemimpinan pendidikan, dan supervisi pendidikan Indonesia. Namun penelitihan-penelitian yang lebih difokuskan pada kepemimpinan pembelajaran belum banyak mendapatkan perhatian. Lebih-lebih penenltian pengembangan (developmental research) tentang kepemimpinan pembelajaran, lebih-lebih penelitian pengembangan tentang sistem terintegrasi kepemimpinan sekolah (integrated system of school leardership atau integrated system of principalship) yang bisa menghasilkan sistem penyiapan dan pemberdayaan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran, sebagaimana dapat divisualisasikan pada gambar 3. Sungguh Indonesia sangat membutuhkan Integrated System of Principalship Designer, yang produktif menghasilkan sistem terintegrasi penyiapan dan pemberdayaan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran yang efektif untuk dimanfaatkan secara optimal dalam penyiapan dan pemberdayaan kepala sekolah di Indonesia dalam kerangka pelaksanaan sistem pendidikan nasional.
 
Merujuk model konseptual pada gambar 3 di atas, maka dalam rangka memartabatkan dan mencerdaskan guru agar sukses besar dalam mengimplementasikan kurikulum dan pengembangan pembelajaran sehingga menghasilkan keluaran yang cerdas dan kompetitif diperlukan: (1) pengembangan standar kompetensi kepala sekolah, terutama dalam konteks kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran; (2) sertifikasi (melalui uji kompetensi dan program penyegaran) kepala sekolah yang ada selama ini; (3) seleksi calon (guru yang berpotensi menjadi) kepala sekolah; (4) penilaian kinerja kepala sekolah secara kontinyu; (5) pembinaan profesi dan karir kepala sekolah secara berkelanjutan; (6) pembinaan kesejahteraan kepala sekolah; dan (7) penghargaan dan perlindungan kepala sekolah.
 
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Menghadapi era golobalisasi bangsa Indonesia dituntut memiliki sumber daya manusia (SDM) yang cerdas komprehensip dan kompetitif. Kecerdasan kehidupan bangsa meskipun merupakan karunia Ilahi, juga sebagian besar dipengaruhi hasil pendidikan, sebab secara hakiki pendidikan merupakan usaha sadar dalam mewujudkan proses pembelajaran bagi peserta didik (siswa) agar mereka secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi manusia kepribadian, kecerdasan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negaranya. Sebuah sistem pendidikan tidak akan dikatakan efektif bilamana tidak menjembatani “jurang” antara subtansi pendidikan dengan realitas kehidupan yang akan dihadapi siswa di era globalisasi yang secara hakiki merupakan era kompetisi yang sangat dahsyat dalam segala sektor pembangunan sebagai dapak dari informasi, keterbukaan, liberalisasi, pasar bebas yang tdiak terbatas. Manajemen pendidikan persekolahan yang baik harus disertai oleh guru baik, sehingga kurikulumnya dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran yang baik. Keefektifan suatu sekolah dalam menggapai visi, mengemban misi, mememuni tujuan dan target, serta dalam menjalankan aktivitas pembelajaran mempersyaratkan adanya seorang kepala sekolah yang menampilkan kepemimpinan yang efektif. Dengan kedudukannya yang begitu straetgisnya, kepala sekolah ditantang untuk mengupayakan kepemimpinan yang efektif.
 
Saran
Perlu dilakukan: (1) pengembangan standar kompetensi kepala sekolah, terutama dalam konteks kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran; (2) sertifikasi (melalui uji kompetensi dan program penyegaran) kepala sekolah yang ada selama ini; (3) seleksi calon (guru yang berpotensi menjadi) kepala sekolah; (4) penilaian kinerja kepala sekolah secara kontinyu; (5) pembinaan profesi dan karir kepala sekolah secara berkelanjutan; (6) pembinaan kesejahteraan kepala sekolah; dan (7) penghargaan dan perlindungan kepala sekolah.
 
 
DAFTAR RUJUKAN
 
Adler, M. J. 1982. The Paideia Proposal: An Educational Manifesto. New Cork: Macmillan Publishing Co.
Depertemen Agama Republik Indonesia. 1984. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia.
Hoy, A.W. dan Hoy, W.K. 2009. Instructional Leadership: A Research-Based Guide to Learning in Schools. Boston: Pearson Education, Inc.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Menyiapkan Guru Masa Depan. Jakarta: Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2015. Menyiapkan Generasi Emas 2045: Memori Akhir Masa Jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2010—2014. Jakarrta: Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Lunenburg. 2010. The Principal as Instructional Leader. National Forum of Educational and Supervision Journal, Volume 27 Number 4.
Ministery of Education and Culture. 2014. Indonesia Educational Statistics in Brief 2013/2014. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Murgatroyd, S. dan Morga, C. 1994. Total Quality Management and the School. Buckingham Philadelphia: Open University Press.
Nuh, M. 2013. Menyemai Kreator Peradaban: Renungan tentang Pendidikan, Agama, dan Budaya. Jakarta: Zaman.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005—2025.


Sumber http://ap.fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2015/05/02-Ibrahim-Bafadal.pdf

Posting oleh Teguh Triwiyanto 3 tahun yang lalu - Dibaca 5399 kali

 
Tag : #kepala sekolah # kepemimpinan # manajemen pendidikan

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Kamis, 11/01/2018 10:18:27
Pendidikan Tinggi Harus Tekankan Pengembangan Keterampilan Anak Didik

JAKARTA, KOMPAS.com - Program akademik di perguruan tinggi yang menanamkan kultur akademik internasional sudah...

Jum'at, 05/01/2018 22:21:35
Generasi Milenial Jangan Takut Bereksperimen

KOMPAS.com – Festy Fidia Siswanto prihatin dengan cara pengemasan kopi luwak di sebuah tempat di Ciwidey, Bandung...

7 Pilar MBS
MBS portal
7 Pilar MBS SD
Pilar 1 | Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran Berbasis Sekolah a. Konsep Dasar Manajemen kurikulum dan pembelajaran berbasis sekolah adalah pengaturan kurikulum dan pembelajaran yang meliputi kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum dan pembelajaran...
Informasi Terbaru
Penelitian
Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kemampuan Mengajar Guru dan Inovasi Pendidikan pada SMA Negeri se-Malang Raya
Raden Bambang Sumarsono rbamsum@gmail.com Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang Nomor 5 Malang 65145   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan perilaku kepemimpinan kepala sekolah di SMA Negeri Se-Malang Raya, 2) mendeskripsikan kemampuan mengajar guru SMA Negeri...
Modul dan Pedoman
Video MBS
Apa Itu PAKEM?
Apa Itu PAKEM?
Jum'at, 03/07/2015 15:02:51
Layanan Khusus Peserta Didik
Layanan Khusus Peserta Didik
Minggu, 27/06/2015 11:37:24
MBS  & OTONOMI PENDIDIKAN
MBS & OTONOMI PENDIDIKAN
Rabu, 24/06/2015 21:56:57
Berita Pilihan
Apa Itu PAKEM?
Apa Itu PAKEM?
Jum'at, 03/07/2015 15:02:51
Layanan Khusus Peserta Didik
Layanan Khusus Peserta Didik
Minggu, 27/06/2015 11:37:24
MBS  & OTONOMI PENDIDIKAN
MBS & OTONOMI PENDIDIKAN
Rabu, 24/06/2015 21:56:57
Modul MBS
Better Teaching Learning 3 TOT Provinsi...
6 tahun yang lalu - dibaca 22672 kali
TIK sebagai Kecakapan Hidup
TIK sebagai Kecakapan Hidup
6 tahun yang lalu - dibaca 23050 kali
Lembar Presentasi Fasilitator
6 tahun yang lalu - dibaca 26054 kali
Modul Pelatihan Pengawas Sekolah
Modul Pelatihan Pengawas Sekolah
6 tahun yang lalu - dibaca 38157 kali
Info MBS
2. Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah
2. Manajemen Peserta Didik Berbasis...
5 tahun yang lalu - dibaca 37320 kali
1. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran Berbasis Sekolah
1. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran...
6 tahun yang lalu - dibaca 27914 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2019 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.57 Mb - Loading : 3.30585 seconds